KALIAT EFEKTIF, PARAGRAF, DAN DIKSI

Oleh : Imam Munandar

Matkul : B. Indonesia kel 3

BAB I
PENDAHULUAN

Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran, keinginan, atau perasaan yang ada pada diri sipembicara atau penulis. Bahasa yang digunakan itu hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca.

  1. A.    Latar Belakang

Pemakaian kata secara tepat dalam kalimat merupakan ciri khas bahasa Indonesia ragam ilmiah. Kata-kata yang digunakan ialah yang bermakna tunggal dan denotatif. Kata yang bermakna tunggal digunakan untuk menghindari timbulnya berbagai penafsiran terhadap gagasan yang dikemukakan dalam kalimat. Yang dimaksud dengan kata yang bermakna denotatif ialah kata-kata yang mengandung makna sebenarnya tanpa dikaitkan dengan nilai rasa.

Kata adalah unsur bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna.

Untuk memperoleh ketepatan penggunaan kata dalam kalimat, penulis karangan ilmiah harus paham betul akan makna ataupun konsep yang terwakili dalam kata-kata yang dipilihnya.

Dalam memilih kata yang tepat untuk suatu kalimat dibutuhkan pengetahuan tentang gagasan yang dikemukakan dalam kata itu. Di samping itu, pengetahuan tentang ciri-ciri kata benda, kata kerja, dan kata sifat harus pula kita miliki.

  1. B.     Tujuan dan Kegunaan Penulisan

Dengan rumusan-rumusan tersebut di atas, tujuan yang ingin dicapai oleh penyusun adalah untuk mengetahui :

1. Mengetahui cara penggunaan kata yang sesuai dengan kaidah serta norma-     norma berbahasa.

2. Mengetahui penyebab kata keluar dari kaidah serta norma-norma berbahasa.

  1. C.    Ruang Lingkup Materi

Ruang lingkup dari pembahasan masalah dalam makalah ini ialah segala sesuatu yang berkenaan dengan masalah Kalimat efektif, Diksi dan Paragraf,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I
PEMBAHASAN

 

  1. A.    Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Akan tetapi, kadang-kadang harapan itu tidak tercapai. Misalnya, ada sebagian lawan bicara atau pembaca tidak memahami apa maksud yang diucapkan atau yang dituliskan.

Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang   seharusnya tidak ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah.

Menurut Sabarti Akhdiah (1994:134) menyatakan bahwa secara umum kalimat harus di susun berdasarkan kaidah sebagai berikut : [1]

  1. Penggunaan subjek ganda.
  2. Penjamakan kata yang sudah jamak unsur-unsur yang ada dalam sebuah kalimat.
  3. Aturan ejaan yang berlaku.
  4. Cara-cara memilih kata (diksi).

Syarat umum kalimat efektif adalah :

  1. 1.                  Kesepadanan dan kesatuan gagasan

Kalimat biasanya terdiri dari subjek, predikat, objek, dan keterangan. Kesepadanan artinya hubungan timbal balik antara subjek dengan predikat, antara predikat dengan objek serta dengan keterangan-keterangannya yang menjelaskan unsur-unsur kalimat tersebut. Kesepadanan artinya pikiran/perasaan ide sama dengan kalimat yang diucapkan atau ditulis. Kesatuan gagasan artinya bahwa sebuah kalimat harus utuh mengandung satu ide pokok atau satu pikiran (tidak menimbulkan salah paham). Biasanya jika sepadan dengan pikiran dan perasaan, kalimat dengan sendirinya akan memiliki kesatuan gagasan.

Contoh kalimat sepadan :

  1. Dosen sedang menyampaikan perkuliahan bahasa arab    (benar)

Kalimat ini sepadan karena kalimatnya utuh dan lengkap.

  1. Bagi dosen sedang menyampaikan perkuliahan bahasa Arab (salah)

Kalimat ini tidak sepadan dan tidak jelas kesatuan gagasannya karena tidak lengkap , tidak mempunyai subjek.

  1. 2.                  Kelogisan

Kelogisan kalimat adalah kemampuan sebuah kalimat untuk menyatakan sesuatu dengan logika. Sebuah kalimat memiliki kelogisan jika masuk akal.

Contoh kalimat :

  1. Pencuri berhasil ditangkap polisi (salah)
  2. Polisi berhasil menangkap pencuri (benar)
  3. 3.                  Keparalelan

Keparalelan atau kesejajaran adalah kesamaan unsur-unsur yang digunakan secara konsisten dalam satu kalimat. Jika verba yang di gunakan, unsur yang lain juga verba. Demikian pula, jika nomina yang di gunakan, unsur yang lain juga nomina. Jika aktif yang di gunakan, yang lain juga harus aktif. Demikian pula sebaliknya.

Contoh :

  1. Belajar, bergurau : Dia tidak belajar, melainkan bergurau.
    1. Syahadat, salat, zakat, puasa, haji : Rukun Islam ada lima yaitu: Syahadat, salat, zakat, puasa, haji.
    2. Masuk, menjawab : Karena sering tidak masuk kuliah, Amir tidak dapat menjawab soal yang sangat mudah itu.
    3. 4.                  Penekanan/Ketegasan

Penekanan atau ketegasan ialah penonjolan pada pokok kalimat. Ada beberapa cara untuk memberikan penonjolan yaitu :

  1. Mengubah fungsi kata dalam kalimat, misalnya :

-          Sungguh anggun gadis yang berkerudung merah itu. (Yang ditekanan adalah predikat yaitu angun)

-          Tahun yang akan datang kami sekeluarga akan melaksanakan ibadah haji. (Yang ditekankan adalah keterangan waktu yaitu yang akan datang).

  1. Menggunakan klimaks atau antiklimaks, misalnya :

-          Jangankan cuma ongkos umrah, ongkos haji pun akan kuberikan.

-          Jangankan dua kali, sekali pun dia belum pernah datang untuk berkunjung kerumahku.

  1. Menggunakan tahapan yang logis, misalnya :

-          Kebutuhan manusia terdiri dari kebutuan akan pangan, sandang dan papan.

  1. Menggunakan partikel penegas

-          Bukan hanya kami, Saudara pun ikut berbuat salah.

  1. 5.                  Kehematan

Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Peghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan. Untuk itu, hal-hal yang harus dihindarkan dalam kalimat adalah sebagai berikut :

  1. Penggunaan subjek ganda, misalnya :

-          Karena mahasiswa itu malas mengikuti acara perkuliahan, mahasiswa itu ketinggalan pelajaran.

Seharusnya :

-          Karena malas mengikuti acara perkuliahan, mahasiswa itu ketinggalan pelajaran.

  1. Penjamakan kata yang sudah jamak, misalnya:

-          Bapak-bapak, ibu-ibu, para hadirin sekalian yang kami hormati.

-          Konferensi Meja Bundar diikuti oleh beberapa Negara-negara.

Lebih hemat ;

-          Hadirin yang kami muliakan.

-          Konferensi meja Bundar diikuti oleh beberapa Negara.

  1. Penggunaan bentuk panjang yang salah, misalnya :

-          Kamu janganlah membuat kotor kelas ini dengan kotoran kambing itu.

Lebih hemat :

-          Kamu jangan mengotori kelas ini dengan kotoran kambing itu !

  1. Penggunaan saling+verba esprokal, misalnya :

-          Anak-anak itu saling berkelahi satu sama lain sehingga luka parah.

-          Sesama umat beragama dilarang saling bertikai.

Lebih hemat :

-          Anak-anak itu berkelahi sehingga luka parah.

-          Sesama umat beragama dilarang bertikai.

  1. Pemakaian superordinat pada hiponim kata, misalnya:

-          Mereka melangsungkan pernikahan pada hari Ahad, tanggal 13, bulan Mei, tahun 2008.

Lebih hemat :

-          Mereka menikah pada Ahad, 13 Mei 2008

f. Penggunaan sinonim dalam satu kalimat, misalnya :

-          Jangankan manusia, kucing saja sangat sayang sekali kepada anaknya.

Lebih hemat :

-          Jangankan manusia, kucing saja sangat sayang kepada anaknya.

-          Jangankan manusia, kucing saja sayang sekali kepada anaknya.

  1. 6.                  Kepaduan (Koheresi)

Kepaduan adalah adanya hubungan yang padu (koheren) antar unsur kalimat. Satu unsur dengan unsur yang lain tidak boleh diselingi oleh kata yang tidak penting dan letak kata dalam kalimat tidak boleh dipertukarkan misalnya :

-          Ayah di langgar mengaji sedang

-          Pembangunan desa dari pada kita bertujuan untuk memakmurkan rakyat dari pada desa bukan kepentingan dari pada segelintir orang tersebut.

Lebihpadu :

-          Ayah sedang mengaji di langgar

-          Pembangunan desa kita bertujuan untuk memakmurkan rakyat desa, bukan untuk segelintir orang.

  1. 7.                  Kecermatan

Yang di maksud dengan cermat adalah kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda, dan tepat dalam pilihan kata.

Contoh :

  1. Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
  2. Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.

Kalimat a. memiliki makna ganda, yaitu siapa yang terkenal ? mahasiswa atau perguruan tinggi ?

Kalimat b. memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang ? seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah ?

  1. B.     Paragraf
  2. 1.      Pengertian Paragraf

Paragraf merupakan bagian karangan tulis yang membentuk satu kesatuan pikiran/ide/gagasan. Adapun kesatuan pikiran/ide/gagasan yang dilisankan disebut paratone atau padu. Jadi paratone dan paragraph sesungguhnya merujuk pada hal sama, yakni kesatuan pengungkapan pikiran/ide/gagasan.[2]

Setiap paragraf dan paratone dikenalikan oleh satu ide pokok.Ide pokok harus dikemas dalam sebuah kalimat, yakni kalimat topik atau kalimat utama.

 

  1. 2.                  Syarat-Syarat Paragraf yang baik

Ada beberapa syarat agar kalimat bisa menjadi suatu paragraf yang baik, yaitu :

  1. Penggunaan Pengulangan Kata atau Kata kunci

Kata kunci (keywords) adalah kata yang diulang untuk mengaitkan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya.

Contoh :

            Manusia adalah makhluk sosial.Dalam kehidupannya, manusia secara kodrat tidak dapat hidup sendiri.Sejak dilahirkan, manusia sudah membutuhkan ibu-bapaknya sebagai tempat bergantung.Kerika dapat berkomunikasi dengan lingkungan sosial, manusia memerlukan masyarakat luas untuk bersosialisasi.

  1. Penggunaan Kata Ganti

Kata ganti adalah kata yang dapat menggantikan nominal atau frase nominal, misalnya: dia, beliau, (pronominal persona ‘kata ganti orang’), itu ini, di sini, di situ (pronominal demonstrative ‘kata ganti penunjuk’), dan –nya, -ku, -mu (pronominal objektif ‘kata ganti sasaran’)

  1. Penggunaan Konjungsi Transisi antar Kalimat

Yang dimaksud dengan konjungsi antar kalimat ialah kata penghubung yang digunakan pengarang untuk menyambungkan ide satu kalimat dengan ide kalimat lain dalam paragraf, baik menyambungkan antara kalimat utama dengan kalimat penjelas, maupun antara kalimat penjelas dengan kalimat penjelas.

  1. 3.                  Unsur-unsur Paragraf

Unsur lahiriah paragraf juga berupa kalimat, frasa, kata, dan lain-lain; sedangkan unsur nonlahiriah paragraf berupa makna atau maksud penulis yang dikandung di dalam keseluruhan jiwa paragraf itu. Secara lahiriah, khususnya paragraf nonnaratif, lazimnya paragraf tersusun dari :[3]

  1. Kalimat topik atau kalimat utama
  2. Kalimat pengembang atau kalimat penjelas
  3. Kalimat penegas
  4. Kalimat transisi

Dalam paragraf naratif, ide pokok paragraph tersebar di dalam keseluruhan kalimat yang membangun paragraf naratif.Jadi paragraf naratif tidak selalu harus mengikuti ciri-ciri lahiriah paragraf seperti disebutkan di atas. Unsur-unsur lahiriah paragraf haruslah padu; unsur nonlahiriah paragraf juga harus satu. Kepaduan lahiriah paragraf disebut koherensi; kesatuan nonlahiriah pargaraf disebut kohesi.

  1. 4.                  Macam-macam Paragraf

Dilihat dari isinya, paragraf terdiri dari :

  1. Eksposisi

Eksposisi artinya paparan. Dengan paparan, penulis menyampaikan suatu penjelasan dan informasi. Setelah membaca, seseorang akan mengerti dan memahami apa yang disampaikan oleh penulis dalam paparan. Yang termasuk jenis karangan ini biasanya makalah, laporan, skripsi, disertasi, dan buku-buku pelajaran.

  1. Narasi

Narasi artinya cerita. Dengan cerita, penulis mengajak pembaca untuk sama-sama menikmati apa yang sudah di ceritakan. Biasanya ciri yang dominan dari cerita adalah tokoh, latar, dan tema cerita. Yang termasuk jenis karangan ialah roman, novel, cerpen, dan kisah.Yang termasuk narasi nonfiksi misalnya sejarah, riwayat hidup, dan biografi.

  1. Persuasi

Persuasi artinya bujukan.Dengan persuasi penulis mempengaruhi pembaca supaya mengikuti kehendaknya.

  1. Argumentasi

Argumentasi adalah jenis tulisan yang memberikan alasan argumen, berdasarkan fakta dan data. Dengan fakta dan data, penulis berusaha meyakinkan pembaca sehingga tulisan itu diterima oleh pembacanya. Yang termasuk jenis tulisan ini ialah semua karya ilmiah ( makalah, skripsi, dan disertasi ).

  1. Deskripsi

Deskripsi artinya lukisan.Karangan lukisan adalah jenis karangan yang menggunakan kata-kata untuk mendeskripsikan suatu keadaan, peristiwa atau orang.

  1. 5.      Pengembangan Paragraf[4]
    1. Pola runtutan ruang dan waktu

Pola ini biasanya digunakan untuk menggambarkan suatu kejadian/peristiwa atau cara membuat sesuatu, selangkah demi selangkah digambarkan menurut ruang dan waktu.

  1. Pola Sebab-Akibat

Pola ini biasanya digunakan di dalam karangan-karangan ilmiah untuk mengumukakan alasan tertentu berikut justifikasinya, menerangkan alasan terjadinya sesuatu, menjelaskan suatu proses yang berpautan dengan sebab dan akibat dari terjadinya hal-hal tertentu.

  1. Pola Susunan Pembanding

Pola pembanding ini digunakan memperbandingkan dua hal atau dua perkara, bahkan bisa juga lebih, yang di satu sisi memiliki kesamaan sedangkan pada sisi yang lain mengandung perbedaan.

  1. Pola Susunan ibarat

Pola ini digunakan untuk menjelaskan sesuatu hal yang memiliki keserupaaan atau kemiripan dengan hal tertentu. Di dalam jenis paragraf ini orang sering menggunakan bentuk-bentuk peribaratan, personifikasi, metafora, dan lain-lain.

  1. Pola Susunan Daftar

Pola ini lazimnya digunakan dalam karya ilmiah dan keteknikan yang sering kali harus mengemukakan informasi dalam bentuk-bentuk daftar, table, grafik, dan semacamnya.

  1. Pola susunan contoh

Dalam susunan paragraf ini, kalimat rinciannya lazim menggunakan contoh-contoh tentang apa yang dimaksudkan dalam kalimat topik atau utama. Pola susunan contoh juga banyak sekali ditemukan di dalam tulisan-tulisan ilmiah.

  1. Pola susunan bergambar

Gambar atau ilustrasi tertentu dimaksudkan untuk memperjelas apa yang telah atau akan dituliskan di dalam sebuah paragraf. Pola susunan bergambar juga sangat lazim ditemukan dalam karya-karya ilmiah.

 

  1. C.    Diksi atau Pilihan Kata

Pilihan kata atau Diksi adalah pemilihan kata – kata yang sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan. Diksi  atau Pilihan kata mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.

Jika dilihat dari kemampuan pengguna bahasa, ada beberapa hal yang mempengaruhi pilihan kata, diantaranya :

  1. Tepat memilih kata untuk mengungkapkan gagasan atau hal yang ‘diamanatkan’.
  2. Kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa pembacanya.
  3. Menguasai sejumlah kosa kata (perbendaharaan kata) yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu menggerakkan dan mendayagunakan kekayaannya itu menjadi jaring-jaring kalimat yang jelas dan efektif.

Adapun fungsi Pilihan kata atau Diksi adalah Untuk memperoleh keindahan guna menambah daya ekspresivitas. Maka sebuah kata akan lebih jelas, jika pilihan kata tersebut tepat dan sesuai. Ketepatan pilihan kata bertujuan agar tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis atau pembicara dengan pembaca atau pendengar, sedangkan kesesuaian kata bertujuan agar tidak merusak suasana.Selain itu berfungsi untuk menghaluskan kata dan kalimat agar terasa lebih indah. Dan juga dengan adanya diksi oleh pengarang berfungsi untuk mendukung jalan cerita agar lebih runtut mendeskripsikan tokoh, lebih jelas mendeskripsikan latar waktu, latar tempat, dan latar sosial dalam cerita tersebut.

Kalimat Diksi mencakup akan kalimat Baku dan Non Baku.

1)      Kalimat Baku dan Non Baku

Kata-kata baku adalah kata-kata yang standar sesuai dengan aturan kebahasaaan yang berlaku, didasarkan atas kajian berbagai ilmu, termasuk ilmu bahasa dan sesuai dengan perkembangan zaman. Kebakuan kata amat ditentukan oleh tinjauan disiplin ilmu bahasa dari berbagai segi yang ujungnya menghasilkan satuan bunyi yang amat berarti sesuai dengan konsep yang disepakati terbentuk.

Kata baku dalam bahasa Indonesia memedomani Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang telah ditetapkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa bersamaan ditetapkannya pedoman sistem penulisan dalam Ejaan Yang Disempurnakan. Di samping itu, kebakuan suatu kata juga ditentukan oleh kaidah morfologis yang berlaku dalam tata bahasa bahasa Indonesia yang telah dibakukan dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indoensia.

Kata baku sebenanya merupakan kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah ditentukan. Konteks penggunaannya adalah dalam kalimat resmi, baik lisan maupun tertulis dengan pengungkapan gagasan secara tepat.

Suatu kata bisa diklasifikasikan tidak baku bila kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang ditentukan. Biasanya hal ini muncul dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahasa tutur.

Penyebab ketidakbakuan kalimat dalam Bahasa Indonesia, yaitu :
Pelepasan Imbuhan

Contoh :
a)     Polisi terus usut kematian Munir (tidak baku)

Polisi terus mengusut kematian Munir. (baku)
b)    Presiden resmikan 8 pabrik gula (tidak baku)

Presiden meresmikan delapan pabrik gula (baku)
c)     Engkau harus hati-hati jika bertemu dengan dia. (tidak baku)

Engkau harus berhati-hati jika bertemu dengan dia. (baku)

Pemborosan Penggunaan Kata

Contoh :
a)     Kemarin dia bertanding di Beijing di mana ia kalah angka. (tidak baku)

Kemarin, dia bertanding di Beijing dan kalah. (baku)
b)    Tempat di mana ditemukannya benda itu telah dicatat. (tidak baku)
       Tempat ditemukannya benda itu telah dicatat. (baku)
c)     Tujuan daripada pertemuan itu adalah pembuatan kesepakatan. (tidak baku)

Tujuan pertemuan itu adalah pembuatan kesepakatan. (baku)

Penggunaan Konjunsi Ganda

Contoh :
a) karena, maka

-    Karena nilainya kurang dari batas minimal, maka ia tak dapat diterima sebagai

   siswa.

-    Karena nilainya kurang dari batas minimal, ia tidak dapat diterima sebagai

    siswa.
b) Meskipun, tetapi

-    Meskipun kita tidak berperang, tetapi kita harus waspada.

-    Meskipun tidak berperang, kita harus waspada.

c) Walaupun, namun
  – Walaupun keringat membasahi seluruh badan, namun ia tetap bekerja.

  – Walaupun keringat membasahi seluruh badan, ia tetap bekerja.

Kerancuan Bentuk
    a) Rancu dalam Hal Bentuk Kata
     – Hal itu belum dipelajarkan kepada kami.

     – Hal itu belum diajarkan kepada kami.
   b) Rancu dalam Hal Kelompok Kata
     – Mereka saling pandang-memandang.

     – Mereka saling memandang
     – Dia dilarang tidak boleh merokok..
     – Dia dilarang merokok.

Kesalahan Ejaan
    a) Penggunaan Tanda Koma Yang Salah
       – Ayah mengatakan, bahwa adik sakit.
       – Saya tidak datang, jika turun hujan.
   b) Pelesapan tanda koma
       Jadi definisi demokrasi adalah sebagai berikut.
      – Di samping itu kita tidak beruntung.
   c) Kesalahan penulisan sapaan
      – Siapa nama saudara?
      – Silakan makan, dik!
      – Ayah mengatakan bahwa adik sakit.

Kesalahan Struktur Kalimat
    a) Surat anda saya sudah baca.

        Surat Anda sudah saya baca.
    b) Dia punya HP sudah dijual.

        HP-nya sudah dijual.
    c) Kalimat itu pembaca tidak tahu artinya.
       Pembaca tidak dapat mengetahui arti kalimat itu.

2. Contoh Kalimat Baku dan Non Baku

Kalimat baku

Kalimat non baku

ubah

Rubah

akuntan

Akountan

ekstream

Ekstrim

geladi

Gladi

karier

Karir

khotbah

Khutbah

manajemen

Managemen

prangko

Perangko

sutera

Sutra

terampil

Trampil

aktivitas

Aktifitas

bus

Bis

cabai

Cabe

cendekiawan

Cendikiawan

Akhlak

Ahlak

Aktivitas

Aktifitas

Analisis

Analisa

Apotek

Apotik

Azan

Adzan

Asas

Azas

Fotokopi

Fotocopy

Desain

Design

Ekspor

Eksport

Ekstrem

Ekstrim

Ekuivalen

Ekwivalen

Frekuensi

Frekwensi

Hakikat

Hakekat

Hierarki

Hirarki

Hipotesis

Hipotesa

Izin

Ijin

Karier

Karir

Kotbah

Khutbah; kutbah

Konferensi

Konperensi

Konkret

Kongkrit

Nonstop

Non stop

Risiko

Resiko

Zaman

Jaman

BAB III
PENUTUP

 

Ada tiga point penting yang perlu di perhatikan, diantaranya:

  1. Dalam berbahasa, haruslah berbahasa dengan baik dan benar, begitu pun dengan menggunakan kata yang harus ditingkatkan lagi, karena kata merupakan unsur yang sangat penting dalam berkomunikasi.
  2. Masalah kata dapat keluar dari norma-norma jika tidak dijaga dengan baik dan benar, sehingga tidak dapat lagi berfungsi untuk berkomunikasi. Maka dari itu, gunakanlah kata sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.
  3. Dengan berubahnya perkembangan zaman , bahasa dan kata salah satunya, jarang sekali digunakan dengan bahasa sopan, apalagi ketika kita bergaul dengan orang lain, seyogyanya kita harus meningkatkan, baik itu bahasa maupun kata-kata yang biasa digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

 

Arifin, Zaebal. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Presindo, 2004

Burhan, Nurgiyantoro. Teori Pengkajia Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998

Mahsusi. Mahir Berbahasa Indonesia. Jakarta: FITK UIN Jakarta, 2004

Rahardi, Kunjana. Penyunting Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2009

Ramlan, Ghoni, Fitriyah Mahmudah. Disiplin Berbahasa Indonesia. Jakarta: FITK PRES, 2010

http://thesrdoank.blogspot.com/2011/09/bindonesia-kaidah-makna.html


[1] Ramlan A. Gani, Mahmudah Fitriyah, Disiplin Berbahasa Indonesia, FITK PRES, 2011, Hlm 61.

[2] Kunjana Rahardi, Penyunting Bahasa Indonesia untuk Karang Mengarang, Erlangga, Jakarta, 2004, hlm. 158.

[3] Ibid, hlm. 160.

[4]  Ibid, hlm. 172.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s