GERAK SEJARAH

Di Posting Oleh : Imam Munandar

Image

A.  Pengertian Gerak Sejarah

Gerak sejarah adalah suatu alur yang menggambarkan bagaimana jalannya proses sejarah, yakni berupa suatu pola kejadian dalam berbagai peristiwa kehidupan manusia. Sudah sejak lama bahwa sejarah dianalogikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari mengenai masa lalu. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, namun juga sebenarnya sejarah tidaklah sepenuhnya seperti itu.Sejarah menjadi sangat menarik karena di dalamnya terdapat banyak hal yang justru tidak dimiliki oleh kehidupan bangsa pada saat ini. Sejarah bukan hanya membicarakan masa lalu, akan tetapi sejarah memiliki sebuah esensi dimana sejarah mampu memberikan fakta dan pemahaman kepada generasi saat ini untuk melihat apa yang telah dibuat oleh generasi pendahulunya.

Berkaitan dengan sifat gerak sejarah Ismangun menjelaskan empat pandangan yakni: gerak lingkar atau siklus, gerak perkembangan ,  gerak spiral dan gerak evolusi atau kemajuan.

  1. Gerak Lingkar

Pandangan ini menyatakan bahwa manusia, masyarakat, serta kebudayaan, bangsa dan negara timbul dan tenggelam dalam urutan perulangan yang sama sifatnya, yakni menggambarkan proses kelahiran, pertumbuhan , perkembnagan, penuaan, dan akhirnya kematian. Pandangan ini sudah mulai berkembang sejak zaman Yunani Kuno dan Romawi Kuno. Sejarah bergerak seperti sebuah urutan pergantian dari kerajaan yang terdahulu menjadi kerajaan kemudian seperti kerajaan Asyria, kerajaan Persia, kerajaan Macedonia, kerajaan Romawi dan seterusnya. Kerajaan-kerajaan tersebut secara berturut-turut mengalami proses lahir, tumbuh,berkembang dan akhirnya lenyap digantikan oleh kerajaan-kerajaan berikutnya. Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa peristiwa sejarah memiliki karakteristik pengulanagan terhadap apa yang sudah terjadi sebelumnya sehingga menggambarkan adanya lingkaran kejadian

Masyarakat indonesia juga mengenal konsepsi cakra manggiling , yaitu cakram berputar yang menunjukkan saat-saat hidup dan mati untuk menggambarkan gerak sejarah yang ditentukan oleh hukum alam yang disebut dengan istilah fatum atau nasib. Pandangan ini mengindikasikan bahwa kehidupan manusia akan terus berulang, yakni dari satu titik bergerak terus untuk kemudian melingkar kembali pada suatu titik yang nyaris tak dikenal sama sekali. Jika suatu zaman telah berakhir, akan digantikan oleh zaman lain yang dimulai dari awal dan untuk kemudian pada suatu saat akan berakhir juga , begitu seterusnya.

  1. Gerak Perkembangan

Pandangan ini berasumsi bahwa peristiwa sejarah merupakan suatu proses yang saling berhubungan satu sama lain. Pada suatu sisi peristiwa sejarah memiliki keunikannya sendiri-sendiri, tetapi pada sisi lain peristiwa sejarah juga menunjukkan adanya suatu perkembangan yang terjadi secara linier. Suatu peristiwa pada dasarnya merupakan suatu kelanjutan dan sekaligus perbaikan dari peristiwa sebelumnya, bukan merupakan suatu pengulangan. Sifat gerak sejarah ini disebut sifat gerak sejarah linier karena memang tidak menggambarkan pola siklus pada pandangan pertama, melainkan menggambarkan garis lurus. Sifat gerak sejarah ini juga disebut progresif, karena pada dasarnya peristiwa sejarah menggambarkan adanya perubahan kearah kemajuan.

Aliran gerak sejarah perkembangan atau progresif linier berusaha menggambarkan suatu peristiwa sejarah menjadi lebih bermakna. Hal ini karena setiap peristiwa sejarah memang berkaitan dengan waktu dan ruang tertentu. Peristiwa sejarahnya menggambarkan adanya proses panjang perjuangan manusia untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Pandangan ini juga dianggap lebih ilmiah karena tidak lagi mennganggap suatu peristiwa sejarah sebagai sesuatu yang bersifat kosmis yang terlepas dari konteks waktu dan ruang tertentu.

  1. Gerak Spiral

Gerak spiral sejarah menggambarakan bahwa suatu peristiwa sejarah memiliki dua sifat yakni progresif dan berkelanjutan. Dengan demikian, pengulangan yang bersifat siklus tidak ada sehubungan dengan progresivitas suatu peristiwa sejarah. Disamping itu peristiwa sejarah berikutnya selalu lebih maju daripada peristiwa sejarah sebelumnya. Gerak spiral sejarah merupakan suatu rangkaian kejadian yang berkelanjutan. Peristiwa sejarah yang terjadi pada saat ini merupakan kelanjutan dari peristiwa sejarah sebelumnya. Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini merupakan kelanjutan dari Kutai, Tarumanegara, Mataram-Hindu, Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram-Islam, dan kerajaan-kerajaan lainnya.

Mengingat adanya pandangan yang mengatakan bahwa Negara Kesatuan Indonesia saat ini merupakan kelanjutan dari kerajaan Nusantara maka penjajahan di Nusantara sebelumnya pada hakikatnya merupakan penjajahan terhadap bangsa Indonesia. Penjajahan terhadap sebagian bangsa di Nusantara sama artinya penjajahan terhadap seluruh bangsa Indonesia. Pada tataran inilah berlaku prinsip pars pro toto, yang berarti sebagian untuk seluruhnnya.

Berdasarkan prinsip seperti ini pulalah berkembang pandangan yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa Belanda selama sekitar 350 tahun meskipun Negara Kesatuan Republik Indonesia baru merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

  1. Gerak Evolusi

Gerak sejarah didasarkan pada teori evolusi yakni suatu gerakan sejarah yang mengarah pada kemajuan. Berdasarkan pada pengertian seperti ini maka sejarah dapat diartikan sebagai suatu medan perjuangan manusia, sedangkan cerita sejarah merupakan suatu epos manusia untuk mencapai predikat kemajuan.

Pandangan grak evolusi dan kemajuan mulai berkembang sejak akhir abad ke-18 atau awala abad ke-19. Pada masa-masa tersebut terdapat kemajuan-kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan filsafat sehingga mendorong berkembangnya pemikiran-pemikiran baru di Eropa. Rasa percaya diri manusia semakin meningkat sehingga mengembangkan semangat otonom. Sumber gerak sejarah tidak dapat disandarkan pada alam maupun tuhan, melainkan dicari dalam diri manusia itu sendiri. Pada abad ke-18 itu pula terjadi revolusi jiwa manusia yang mengatakan kekuatan heteronomi, kemudian digantikan dengan kekuatan otonomi manusia. Pandangan gerak siklus yang mengekang daya cipta manusia dan mendorong sikap masa bodoh mulai ditinggalkan.

  1. B.  Sumber Gerak Sejarah

Sumber gerak sejarah merupakan penyebab pertama dan sekaligus penyebab utama sehingga terjadi suatu gerak sejarah. Terkait dengan sumber gerak sejarah tersebut, Ismangun membedakan menjadi dua kelompok besar, yakni sumber gerak sejarah pada kekuataan manusia dan sumber gerak sejarah diluar kekuatan manusia .

  1. Sumber Gerak Sejarah pada Kekuatan Manusia

Sejarah merupakan kajian tentang berbagai kegiatan manusia yang merupakan manifestasi dari pikiran, perasaan, dan perbuatan manusia pada masa lampau. Dengan demikian, manusia merupakan faktor dan pemegang peran utama terhadap jalannya sejarah, baik yang bersifat individual, yang bersifat organisasi massa, maupun yang bersifat kebangsaan. Manusialah yang berperan dalam kesinambungan dan perubahan sejarah. Dengan demikian, manusia memegang peranan yang sangat menentukan terhadap jalannya suatu peristiwa sejarah. Sehubungan dengan kedudukan dan peranan manusia seperti di atas, misalnya dalam islam, manusia dipandang sebagai khalifah Allah di muka bumi diberi tanggung jawab untuk memimmpin, mengelola, dan memanfaatkan bumi beserta isinya. Pada akhirnya, manusia harus mempertanggungjawabkan segala yang telah diperbuat di muka bumi. Dalam islam, keinginan bebas dan kebebasan menentukan sendiri bergerak dalam koridor yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Berdasarkan catatan sejarah kita bisa menyimak adanya tokoh-tokoh besar yang memiliki kepribadian dan kemampuan istimewa sehingga sangat berpengaruh dan menentukan jalannya sejarah. Sejarah Macedonia memiliki seorang penakluk besar bernama Alexander The Great (Iskandar Agung). Sejarah Kalingga memiliki seorang Ratu Shima yang sangat ketat dalam menegakkan keadilan di wilayah kerajaannya. Sejarah Singasari mencatat Raja Kertanegara yang gagah berani menolak permintaan takluk dari Kaisar Mongol. Sejarah Majapahit mencatat peranan Mahapatih pada puncak kejayaannya. Mataram islam memiliki tokoh legendaris bernama Sultan Agung yang gigih menentang monopoli VOC. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tidak dapat dilepaskan dari jasa para founding fathers, seperti Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Sejarah TNI mencatat seorang jendral Besar Soedirman yang mempertaruhkan jiwa dan raganya dalam memimpin perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sudah barang tentu masih banyak lagi tokoh-tokoh besar yang sangat berpengaruh dan menentukan jalannya sejarah, misalnya para nabi, raja, panglima perang, pemuka masyarakat, seniman, ilmuwan, budayawan, dan sebagainya. Tokoh-tokoh besar tersebut memrgang peranan dalam berbagai bentuk. Dalam hubungannya dengan peranan manusia sebagai sumber gerak sejarah, Gazalba (1966) menjelaskan bahwa manusia sebagai penggerak sejarah bukan saja bersifat perorangan (individual) atau kelompok manusia dalam bentuk massa, melainkan juga bangsa (nation) yang mewakili jiwa dari keanekaragaman yang ada di dalamnya.

  1. Sumber Gerak Sejarah di luar Kekuatan Manusia

Manusia bukanlah satu-satunya kekuatan yang menjadi sumber gerak sejarah. Dengan kata lain, terdapat kekuatan-kekuatan lain di luar kekuatan manusia yang berperan sebagai sumber gerak sejarah, di antaranya adalah kekuatan alam, kekuatan fatum atau nasib, kekuatan mistis-religius, dan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa pengaruh kekuatan lain di luar kekuatan manusia tersebut merupakan sumber gerak sejarah yang tidak dapat dilepaskan dari tingkat perkembangan peradaban yang memengaruhi cara pandang manusia pada zamannya.

  1. Kekuatan Alam

Pada awalnya, kehidupan manusia sangat bergantung pada alam. Kehidupan nomaden manusia pada zaman prasejarah terjadi ketika daya dukung lingkungan alam di sekitarnya sudah tidak memungkinkan untuk menopang kehidupan mereka. Ketergantungan manusia terhadap alam terus berlanjut, bahkan sampai sekarang. Lingkungan alam memiliki bentuk, keadaan posisi, iklim, dan sumber daya yang beraneka ragam. Kesemuanya merupakan factor penggerak sejarah. Lingkungan alam di Asia yang terkenal dengan kesuburan tanahnya, melimpahnya sumber air, dan beraneka ragamnya flora dan fauna telah membawa pengaruh pada corak kehidupan masyarakat, kebudayaan, system pemerintahan, pandangan hidup, dan sebagainya sehingga melahirkan apa yang sekarang kita kenal dengan peradaban Timur. Sementara itu, lingkungan alam di sekitar Laut Tengah dengan iklim yang khas telah melahirkan apa yang sekarang kita kenal dengan istilah peradaban Barat.

Pengaruh kekuatan alam sebagai sumber gerak sejarah juga dapat dilihat secara lebih pragmatis. Mari sejenak kita tengok latar belakang kedatangan bangsa Eropa ke dunia Timur yang dilakukan sejak awal abad ke-16. Selain bertujuan untuk mencari kejayaan dengan kegiatan penaklukan daerah jajahan (glory) dan mengemban misi menyebarkan agama Kristen (gospel), kedatangan mereka di dunia Timur juga didorong untuk mencari kekayaan (gold). Mengapa demikian?

Sejak dahulu kala lingkungan alam di kawasan Asia dikenal sebagai kawasan yang subur serta didukung sumber-sumber air yang melimpah. Keadaan yang seperti inilah yang mendorong bangsa-bangsa di kawasan Asia untuk mengembangkan system pertanian dan perkebunan yang menghasilkan beberapa komoditas dagang yang sangat penting, di antaranya adalah rempah-rempah. Daerah penghasil rempah-rempah yang paling terkenal pada saat itu adalah daerah Maluku yang ada di kawasan Nusantara. Rempah-rempah asal Maluku telah menjadi komoditas dagang Internasional yang mahal. Tidak heran jika para penguasa local di daerah Maluku saling berebut pengaruh untuk menguasai daerah penghasil dan sekaligus perdagangan rempah-rempah. Muncullah dua persekutuan dagang yang dikenal dengan istilah Uli Siswa (Persekutuan Sembilan) yang dipimpin oleh Kerajaan Ternate dan Uli Lima (Persekutuan Lima) vyang dipimpin oleh Kerajaan Tidore.

Sementara, nun jauh di Eropa sana terdapat corak kehidupan lain yang jauh berbeda. Saat musim dingin (musim salju) tiba nyaris tidak ditemukan cara untuk merawat domba-domba piaraan kecuali disembelih. Daging-daging dalam jumlah berton-ton harus diawetkan untuk menjamin ketersediaan bahan pangan selama musim dingin (musim salju) berlangsung. Usaha pengawetan tersebut memerlukan rempah-rempah. Tidak heran jika rempah-rempah merupakan komoditas yang sangat mahal di daratan Eropa. Seperti diketahui bahwa rempah-rempah juga digunakan untuk keperluan lain, misalnya sebagai bahan obat-obatan, penghangat tubuh, maupun sebagai bahan penyedap makanan. Sampai disini kita dapat menemukan alas an mengapa bangsa Eropa berlomba-lomba menemukan dan sekaligus menguasai daerah penghasil rempah-rempah, lengkap dengan pusat-pusat perdagangannya.

Tentu tidak sulit bagi kita untuk menemukan peristiwa sejarah yang digerakan oleh faktor kekuatan alam. Kerajaan Mataram Kuno yang terletak di pedalam Jawa yang subur berkembang sebagai negara agraris. Kerajaan Sriwijaya yang terletak di pinggir pantai berkembang sebagai negara maritim. Sementara pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit dengan kekuasaannya yang membentang di wilayah Nusantara telah berkembang menjadi negara agraris dan sekaligus maritim. Dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan bahwa alam berpengaruh pada terbentuknya cara hidup masyarakat di sekitarnya. Cara hidup akan berpengaruh pada terbentuknya kebudayaan dan peradaban. Bagaimana halnya dengan bangsa dan negara Indonesia pada saat ini?

  1. Kekuatan Fatum

Bangsa Yunani Kuno memiliki pandangan yang khas mengenai hubungan antara manusia dan alam. Manusia merupakan alam kecil (mikrokosmos), sedangkan alam semesta merupakan alam besar (makrokosmos). Istilah kosmos menunjukkan bahwa alam semesta berada dalam keadaan teratur dan di dalamnya berlaku hokum alam. Keteraturan tersebut berlawanan dengan chaos, yakni kekacauan atau ketidakteraturan. Pertanyaan yang sering berkembang dalam kehidupan masyarakat Yunani Kuno adalah hokum apakah yang mengatur kehidupan alam semesta (makrokosmos dan manusia (mikrokosmos)?

Menurut masyarakat Yunani Kuno, alam semesta (makrokosmos) dan manusia (mikrokosmos) ditentukan oleh kekuatan misterius yang disebut dengan fatum atau nasib. Perjalanan hidup alam semesta (makrokosmos), baik matahari, bumi, bulan, bintang dan sebagainya ditentukan oleh fatum atau nasib. Ketentuan fatum atau nasib akan menggerakan sejarah secara melingkar atau siklus, yakni berupa perulangan dari peristiwa kelahiran, pertumbuhan, perkembangan, penuaan, dan kematiaan yang terjadi secara berulang-ulang dan terus-menerus.

Bagi bangsa Yunani Kuno, fatum atau nasib merupakan kekuatan tunggal yang menggerakan sejarah. Manusia hanya menjalani apa yang sudah menjadi nasibnya. Itulah sebabnya bangsa Yunani Kuno hidup secara bebas dan tidak berusaha memikirkan sesuatu karena segala sesuatu berjalan menurut ketentuan fatum atau nasib. Berangkat dari pandangan seperti ini, maka menyesali keadaan itu tidak berguna. Hal ini sama tidak bergunanya dengan memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Manusia tidak akan mampu mengubah ketentuan fatum atau nasib sebagaimana adanya. Maka, berlakulah semboyan amor fati cintailah nasibmu atau Carpe deim nikmatilah hidupmu karena hidup hanya sekali. Ketentuan fatum atau nasib cenderung membawa manusia untuk menyerah pada keadaan.

  1. Kekuatan Mistis-Religius

Pernahkah anda melihat prosesi upacara wiwit yang dilakukan oleh masyarakat Jawa tradisional sebelum memulai menanam padi di sawah? Pada prosesi upacara wiwit tersebut petani melakukan pemujaan pada Dewi Sri yang dianggap sebagai penguasa padi. Upacara wiwit seperti ini merupakan salah satu conto kecil dari tradisi bangsa kita dalam memuja kekuatan mistis-religius. Kekuatan mistis-religius sebagai kekuatan penggerak sejarah berlaku pada saat manusia memuja arwah nenek moyang dan kekuatan dewa-dewi yang bersifat mistis-religius. Pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan kekuatan dewa-dewi dilakukan oleh masyarakat kuno, baik di dunia Timur maupun Barat. Di Timur, bangsa Indonesia, Jepang, Cina, India, Persia, Arab, dan Mesir Kuno terkenal dengan pemujaannya terhadap arwah nenek moyang dan kekuatan dewa-dewi. Sementara itu di Barat, masyarakat Yunani dan Romawi dikenal juga sebagai pemuja dewa-dewi. Berdasarkan kepercayaan seperti ini maka berkembang keyakinan bahwa sumber kekuatan penggerak sejarah adalah makhluk gaib yang bersifat supranatural.

  1. Tuhan Yang Maha Esa

Anggapan bahwa Tuhan Yang Maha Esa merupakan sumber kekuatan penggerak sejarah mulai berkembang sejalan dengan perkembangan agama samawi, yakni agama Yahudi, Nasrani, dan Islam. Dalam hal ini terdapat beberapa pergeseran pemahaman manusia. Sebelumnya, fatum atau nasib dianggap sebagai kekuatan tunggal yang menentukan gerak sejarah, maka sekarang berubah menjadi pemahaman bahwa gerak sejarah hanya terjadi karena adanya kekuasaan atau kehendak Tuhan. Pemahaman yang berkembang pada masyarakat Kristen abad pertengahan memberikan pengaruh yang ekstrim sehingga berkembang pandangan bahwa sejarah merupakan wujud dari kekuasaan Tuhan. Tidak ada kebebasan pada diri manusia untuk menentukan nasibnya sendiri. Manusia dan alam sekedar menerima nasib dari Tuhan. Manusia tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk mengubah nasib sama sekali. Dalam hal ini berlaku pepatah fiat foluntas tua yang berarti kehendak Tuhan terlaksanalah. Menurut (Ali, 1961), sejarah Eropa pada abad pertengahan diartikan sebagai penantian manusia pada civitas dei (kodrat Ilahi). Gerak sejarah bersumber dan sekaligus pada Civitas Dei (kerajaan Ilahi).

  1. C.    Arah dan Tujuan Gerak Sejarah

Ada beberapa pandangan mengenai arah dan tujuan gerak sejarah akan akan dijelaskan sebagai berikut :

  1. Pandangan yang mengatakan bahwa peristiwa sejarah bergerak tanpa arah dan tanpa tujuan. Pandangan yang dikembangkan oleh  Oswald Spengler ini mengatakan bahwa peristiwa sejarah bergerak secara berputar-putar dan berulang-ulang sehingga tidak memunculkan sesuatu yang baru. Setiap peristiwa sejarah yang terjadi pada saat ini pada dasarnya merupakan perulangan dari peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Demikian juga peristiwa sejarah pada saat ini akan diulang kembali pada masa yang akan datang. Pararel dengan pandangan ini berkembanglah semboyan amor fati ( cintailah nasibmu ) karena sejarah tidak lebih dari sekedar perulangan semata.
  2. Pandangan yang mengatakan bahwa peristiwa sejarah bergerak menuju kearah kesempurnaan manusia sesuai dengan kekuasaan Tuhan. Setiap peristiwa sejarah pada dasarnya merupakan pelaksanaan dari kehendak Tuhan, tidak ada pilihan bagi manusia kecuali menerima ketentuan ilahi. Tidak ada kemampuan manusia untuk menolak nasib yang telah ditentukan oleh tuhan baginya. Pandangan ini menegaskan bahwa manusia yang patuh pada ketentuan tuhan, maka muara dari gerak sejarah adalah civitas dei ( kerajaan ilahi ) . Sebaliknya bagi manusia yang tidak menerima ketentuan Tuhan , maka muara gerak sejarah adalah civitas diaboli ( kerajaan iblis ). Kepatuhan manusia terhadap ketentuan tuhan menjadi kunci bagi akhir kehidupannya.
  3. Pandangan yang mengatakan bahwa gerak sejarah merupakan keseimbangan anatara kehendak Tuhan dengan usaha manusia. Pandangan ini ingin menegaskan bahwa manusia dapat mengubah nasibnya manakala dirinya mau berusaha dan berjuang untuk mngubahnya
  4. Pandangan yang mengatakan bahwa gerak sejarah akan membawa manusia kepada tahapan-tahapan kemajuan. Peristiwa sejarah merupakan sebuah evolusi yang tidak terbatas. Dengan demikian manusia dapat menjalani dan memperjuangkan kehidupannya dengan harapan dapat mencapai kemajuan. Melalui perjuangan, manusia dapat mengembangakan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga manusia dapat mengolah dan menikmati lingkungan alam. Pandangan ini berusaha menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kunci bagi kekuasaan manusia.
  5. Pandangan yang mengatakan bahwa gerak sejarah ditentukan oleh faktor ekonomi. Pandangan ini dikembangkan oleh aliran materialisme historis. Aliran ini ingin menegaskan bahwa gerak sejarah masyarakat tanpa kelas. Menurut paham ini gerak sejarah mengikuti pola yang terdiri dari beberapa fase, yakni fase masyarakat komunal primitif , fase perbudakan, fase feodalisme, fase kapitalisme, fase sosialisme, dan terakhir fase komunisme.
  1. Tugas Manusia dalam Sejarah

Manusia tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Manusia dan sejarah merupakan suatu dwi tunggal, manusia adalah subyek dan obyek sejarah. Sejarah menceritakan riwayat tentang manusia, dimana riwayat manusia diceritakan oleh manusia dan cerita itu dibaca juga dialami oleh manusia pula. Apabila manusia dipisahkan dari sejarah maka ia bukan manusia lagi melainkan sejenis makhluk biasa seperti hewan. Sejarah adalah pengalaman-pengalaman manusia dan ingatan tentang pengalaman-pengalaman yang diceritakan. Maka peran manusia dalam sejarah adalah bahwa ia adalah pencipta sejarah, sebagai penutur sejarah dan pembuat sejarah. Sehingga manusia adalah sumber sejarah.

Maka dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari sejarah. Manusia berjuang terus berarti dia terus berusaha memperbaiki taraf hidupnya. Ia terus diperkaya, diperindah, disempurnakan. Sejarahpun terus diperluas dengan perjuangan-perjuangan baru. Justru karena manusia menguasai warisan nenek moyang, ia dapat berjuang dengan lebih sempurna. Dengan menguasai sejarahnya, ia dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya.Apabila hajat berjuang manusia menjadi lemah dan terus berkurang, maka gerak sejarah mulai membeku. Akhirnya gerak sejarah tidak tampak bergerak, berhenti dan bersifat statis. Pembekuan gerak sejarah berarti bahwa manusia tidak mengalami perubahan-perubahan penting. Masyarakat tetap, tak bergerak menuju perubahan yang mengakibatkan kemajuan dan keruntuhan. Maka dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari sejarah. Manusia berjuang berarti bahwa ia terus berusaha memperbaiki taraf kehidupan.

Menurut para filosof sejarah pengikut metode kontemplatif terdapat tiga pola gerak di mana sejarah berjalan sesuai dengannya, yaitu:

  1. Sejarah berjalan menelusuri garis lurus lewat jalan kemajuan yang mengarah ke depan atau kemunduran yang bergerak ke belakang.
  2. Sejarah berjalan dalam daur kultural yang dilalui kemanusiaan, baik daur saling terputus,dan dalam berbagai kebudayaan yang tidak berkesinambungan atau daur-daur itu salingberjalin dan berulang kembali.
  3. Gerak sejarah tidak selalu mempunyai pola-pola tertentu.
  1. Kekuatan – Kekuatan Sejarah

Menurut Carl G. Gustavson dalam A Preface of History mengidentififikasikan enam kekuatan sejarah, yaitu ekonomi, agama, institusi ( terutama politik ), teknologi, ideologi, dan militer. Kita juga masih dapat menambahkan tujuh kekuatan sejarah lainnya, yaitu individu, seks, umur, golongan, etnis dan ras, mitos, budaya.

  1. Ekonomi sebagai kekuatan sejarah

Dari sejarah dunia kita dapat belajar bahwa terciptanya jalan sutra dari tipnkok ke eropa , eksplorasi eropa ke dunia timur, kedatangan orang-orang eropa di amerika serikat bagian selata, perdagangan budak, dan kedatangan para pengejar “ american dream” adalah karena alasan ekonomi.

  1. Agama sebagai kekuatan sejarah

Gerakan-gerakan yang terekat di Aceh pada awal abat ke 17, di bawah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani serta pemberantasan di bawah Nurddin Ar-raniri adalah semata-mata karena alasan agama, karena dua orang yang pertama dianggap sesat. Perjalanan Burhanuddin dari ulakan di sumatra barat untuk bekajar agama pada Abdurrauf di aceh pada abad ke 17, dan penyebaran agama islam di sumatra barta tidak lepas dari motif keagamaan. Demikian juga mata rantai gerakan tarekat di indonesia sampai sekarang. Sebelun jadi gerakan sosial, kultural, dan polotik, penyebaran agama islam di jawa pada mulanya adalah gerakan keagamaan.

  1. Institusi sebagai kekuatan sejarah

Dalam sejarah indonesia, institusi, tertutama negara juga merupakan kekuatan yang menggerakkan sejarah. Institusa politik sangat efektif untuk menguasai ekonomi. Yang akan menuliskan sejarah politik, mungkin puas dengan melihat institusi politik. Akan tetapi, bagi penulis sejarah sosial atau sejarah ekonomi dapat melihat kekuatan sejarah dibelakang institusi. Dalam zaman patrimonial, karena raja dan negara tak dapat dipisahkan, cukuplah orang mel;ihat raja sebagai sebuah institusi.

  1. Teknologi sebagai kekuatan sejarah

Dengan diam-diam teknologi telah mengubah kehidupan, tetapi masih luput dari perhatian sejarawan, sebabnya sejarawan masih sibuk mengurus sejarah yang besar-besar, yang atas-atas, dan yang dipermukaan, dan melupakan yang kecil-kecil, yang di bawah, dan kekuatan-kekuatan yang tak tampak seolah-olah itu bukan sejarah.

  1. Ideologi sebagai kekuatan sejarah

Pada awal abad ke 20, pemikiran tentang kemajuan menjadi penggerak utama untuk meninggalkan pandangan tradisional. Gerakan nasionalisme merupakan idologi yang melahirkan banyak lembaga politik. Sebagai gerakan yang dipengaruhi oleh nasionalsme, juga mempunyai pengaruh dalam kesusastraan. Pancasila yang merupakn common denominator bagi seluruh bangsa indonesia adalah idiologi yang telah menjadi persetujuan bersama juga merupakan kekuatan sejarah. Telah dibuktikan sepanjang sejarah indonesia bahwa ia merupakan idielogi yang efektif.

  1. Militer sebagai kekuatan sejarah

Peran yang diambil oleh tentara indonesia dalam proklamasi sangat besar. Demikian juga tentara resmi mauoun laskar-laskar dalam revolusi. Tentara yang bergerilya berhasil mempertahankan eksistensi bangsa indonesia pada waktu terdesak dengan meyakinkan PBB. Setelah itu peran tentara sangat penting, terutama dengan berhasilnya tentara dalam memadamkan pemberontakan-pemberontakan. Tentara juga merupakan kekuatan yang real, dam kekuatan sejarah yang harus diperhitungkan oleh ormas-ormas oleh G 30 S/PKI. Berdirinya orde baru di militer indonesia juga tak dapat dipisahkan militer indonesia.


 

BAB III

PENUTUP

 

Sejarah adalah sejarah manusia dimana peran, penulis sejarah, dan peminatnya hanya manusia saja. Maka manusialah yang harus dipandang sebagai inti sejarah. Oleh sebab itu dapat dipahami apabila masalah itu dipandang sebagai akibat daripada pendapat manusia tentang dirinya, yaitu :

  1. Manusia bebas menentukan nasib sendiri dengan istilah interpersional otonom.
  2. Manusia tidak bebas menentukan nasibnya atau manusia ditentukan oleh kekuatan diluar pribadinya. Atau disebut dengan manusia heterofaham bahwa manusia itu otonom dalam istilah filsafat disebut inderterminism dan faham heteronom disebut determinism.

Dari dua faham itu faham heteronom atau determinism adalah faham yang tertua. Menurut kepercayaan manusia tentang penentu nasibnya adalah :

-          Alam sekitarnya dan segala isinya

-          Kekuatan

-          Tuhan


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arif, Muhammad. 2009. Pengantar Kajian Sejarah. Bandung : Penerbit Yrama Widya

http://dc443.4shared.com/doc/j1U65u__/preview.html

http://ervinaprestiant.wordpress.com/2011/12/21/gerak-sejarah/

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s