Hedonisme

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Perilaku hedonisme dan konsumtif telah melekat pada kehidupan kita.Pola hidup seperti ini sering kita jumpai di kalangan mahasiswa, masyarakat pada umumnya, sampai pejabat negara.Dimana orientasinya diarahkan kenikmatan, kesenangan, serta kepuasan dalam mengkonsumsi barang secara berlebihan yang bersifat sementara.Manusiawi memang, ketika manusia hidup untuk mencari kesenangan dan kepuasan, karena itu merupakan sifat dasar manusia.Contohnya sekarang, segala macam media informasi merayu kita mengenai gaya hidup. Gaya hidup yang terus disajikan bagaikan fast food melalui media informasi.

Baik para remaja, dewasa, dan orang setengah bayapun saling berlomba-berlomba mengaktualisasikan dirinya untuk mencapai kepuasan dan apa yang mereka inginkan. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapainya.Salah satunya dengan mencari popularitas dan membelanjakan barang yang bukan merupakan kebutuhan pokok.Pada kenyataannya pola kehidupan yang disajikan adalah hidup yang menyenangkan secara individual. Inilah yang senantiasa didorong oleh hedonisme dan konsumerisme, sebuah konsep yang memandang bahwa tingkah laku manusia adalah mencari kesenangan dalam hidup dan mencapai kepuasan dalam membelanjakan kebutuhan yang berlebihan sesuai arus gaya hidup. Yang tentunya hal ini sangat besebrangan  dengan ajaran agama islam yang mana dalam agama mengajarkan akan kesederhanaan dan melarang hal – hal yang mubazir.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disebutkan diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah :

  1. Apa pengertian gaya hidup ?
  2. Faktor apa saja yang mempengaruhi gaya hidup ?
  3. Apa pengertian dan bagaimana cara mengatasi gaya hidup hedonisme?
  4. Gaya hidup konsumtif  dan hedonis dalam pandangan islam?
  5. Faktor apa saja yang mempengaruhi gaya hidup konsumtif ?
  6. Bagaimana cara mengatasi gaya hidupkonsumtif ?

 

  1. Manfaat Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui :

  1. Pengertian gaya hidup hedonisme
  2. Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hiduphedonisme
  3. Cara mengatasi gaya hidup hedonisme
  4. gaya hidup konsumtif dan hedonis dalam pandangan islam.
  5. Cara mengatasi gaya hidup konsumtif

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian Gaya Hidup

Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya,gaya hidup adalah perpaduan antara kebutuhan ekspresi diri dan harapan kelompok terhadap seseorang dalam bertindak berdasarkan pada norma yang berlaku.Oleh Islam semua sudah diatur, Allah berfirman, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, telah Ku-cukupkan untukmu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.(al-Maidah: 3)Islam adalah ajaran yang sempurna, sebuah sistem dan cara pandang hidup yang lengkap, praktis, dan mudah. Islam memberikan tuntunan terkait hal yang bersifat individu dan yang menyangkut masalah kemasyarakatan.Oleh karena itu, banyak diketahui macam gaya hidup yang berkembang di masyarakat sekarang misalnya gaya hidup hedonis, gaya hidup metropolis, gaya hidup global dan lain sebagainya.

  1. B.     Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup

Gaya hidup seseorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal).

Faktor internal yaitu : sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dengan penjelasannya sebagai berikut :

  1. Sikap :berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang diorganisasi melalui pengalaman dan mempengaruhi secara langsung pada perilaku. Keadaan jiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, kebudayaan dan lingkungan sosialnya.
  2. Pengalaman :dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah laku, pengalaman dapat diperoleh dari semua tindakannya dimasa lalu dan dapat dipelajari, melalui belajar orang akan dapat memperoleh pengalaman. Hasil dari pengalaman sosial akan dapat membentuk pandangan terhadap suatu objek.
  3. Kepribadian adalah konfigurasi (wujud) karakteristik individu dan cara berperilaku yang menentukan perbedaan perilaku dari setiap individu.
  4. Konsep diri sudah menjadi pendekatan yang dikenal amat luas untuk menggambarkan hubungan antara konsep diri konsumen dengan image merek. Bagaimana individu memandang dirinya akan mempengaruhi minat terhadap suatu objek. Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan menentukan perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya, karena konsep diri merupakan frame of reference yang menjadi awal perilaku.
  5. Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk merasa aman dan kebutuhan terhadap prestise merupakan beberapa contoh tentang motif. Jika motif seseorang terhadap kebutuhan akan prestis itu besar maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung mengarah kepada gaya hidup hedonis.
  6. Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan menginterpretasikan informasi untuk membentuk suatu gambar yang berarti mengenai dunia.

Adapun faktor eksternal dijelaskan sebagai berikut :

  1. Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang. Kelompok yang memberikan pengaruh langsung adalah kelompok dimana individu tersebut menjadi anggotanya dan saling berinteraksi, sedangkan kelompok yang memberi pengaruh tidak langsung adalah kelompok dimana individu tidak menjadi anggota didalam kelompok tersebut. Pengaruh-pengaruh tersebut akan menghadapkan individu pada perilaku dan gaya hidup tertentu.
  2. Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku individu.Hal ini karena pola asuh orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara tidak langsung mempengaruhi pola hidupnya. penyebab utama seseorang menjadi hedonisme adalah orang tua lalai untuk mewarisi anak dengan norma dan gaya hidup timur yang punya nilai spiritual.
  3. Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat, yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang, dan para anggota dalam setiap jenjang itu memiliki nilai, minat, dan tingkah laku yang sama. Ada dua unsur pokok dalam sistem sosial pembagian kelas dalam masyarakat, yaitu kedudukan (status) dan peranan. Kedudukan sosial artinya tempat seseorang dalam lingkungan pergaulan, prestise hak-haknya serta kewajibannya. Kedudukan sosial ini dapat dicapai oleh seseorang dengan usaha yang sengaja maupun diperoleh karena kelahiran. Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan.
  4. Kebudayaan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh individu sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, meliputi ciri-ciri pola pikir, merasakan dan bertindak.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup berasal dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal). Faktor internal meliputi sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif , dan persepsi. Adapun faktor eksternal meliputi kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan. Kemudian faktor tersebut yang menggerakkan manusia untuk berlagak  dan berprilaku mengikuti tuntutan zanan.Dengan berbuat seperti itu, seakan-akan mereka menganggap diri mereka sebagai orang yang menerapkan sistem modern.Kalau tidak berbuat dan menerapkan hal demikian, bakal merugikan kehidupannya, masa depannya, dan segenap usahanya.Apa yang dilakukannya seakan-akan merupakan langkah yang baik, selaras dengan prinsip hidup modern, dan sesuai dengan kondisi masyarakat. Fenomena ini digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya, Katakanlah, “Apakah akan Kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (al-Kahfi: 103—104)

  1. C.    Gaya Hidup Hedonisme

 

Gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk mencari kesenangan hidup, seperti lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, lebih banyak bermain, senang pada keramaian kota, senang membeli barang mahal yang disenanginya, serta selalu ingin menjadi pusat perhatian.

Hedonisme adalah derivasi (turunan) dari liberalisme.Sebuah pandangan hidup bahwa kesenangan adalah segalanya, bahkan kehidupan itu sendiri. Bagi kaum hedonis, hidup adalah meraih kesenangan materi: sesuatu yang bersifat semu, sesaat, dan artifisial. Pandangan ini lahir di Barat, yang memuja kebebasan berperilaku.masih ada sekelompok manusia yang menyandarkan falsafah hidupnya hanya untuk meraup kesenangan. Ia tidak peduli kesenangan yang didapat dia tempuh dengan cara apa. Baginya, kesenangan adalah satu-satunya kebaikan.Prinsip hidup “asal senang” ini adalah prinsip hidup kaum hedonis. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hedonisme diartikan sebagai pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan utama dalam hidup. Doktrin hedonisme (asal katanya adalah hedone, bahasa Yunani yang berarti kesenangan) digulirkan oleh salah seorang murid Socrates yang bernama Aristippus.Filsafat hedonisme mengajarkan prinsip “Apa yang dilakukan dalam rangka meraup kesenangan atau menghindari penderitaan. Kesenangan adalah satu-satunya kebaikan, dan mencapai puncak kesenangan adalah satu-satunya kebajikan.”Secara universal hedonismen dapat kita artikan sebagai prilaku yang mengagungkan kesenagan dan kenikmatan.

  1. D.    Faktor yang Mempengaruhi Hedonisme

Gaya hidup hedonisme tentu ada penyebabnya. Ada banyak faktor ekstrinsik (faktor yang datang dari luar) yang memicu emosi mereka menjadi hamba hedonism, antara lain :

  1. Orang tua dan kaum kerabat

Orang tua dan kerabat adalah penyebab utama generasi mereka menjadi hedonisme. Orang tua lalai untuk mewarisi anak dengan norma dan gaya hidup timur yang punya spiritual. Orang tua tidak banyak mencampurtangankan anak tentang hal spiritual.Sebagian orang tua jarang yang ambil pusing apakah anak sudah melakukan sholat atau belum, apakah lidahnya masih terbata- bata membaca alif –ba-ta, dan tidak sedih melihat remaja mereka kalau tidak mengerti dengan nilai puasa.

 

 

  1. Faktor Bacaan

Faktor bacaan memang dapat mencuci otak mahasiswa untuk menjadi orang yang memegang prinsip hedonisme.Adalah kebiasaan mahasiswa kalau pulang kampus pergi dulu ke tempat keramaian, pasar, paling kurang mampir di kios penjualan majalah dan tabloid. Mereka senang dengan bacaan mengenai trend atau gaya hidup terbaru dan entertainment sehingga timbul keinginan untuk mengikuti atau menirunya.

  1. Pengaruh tontonan

Pengaruh tontonan, tayangan televisi (profil sinetron, liputan tokoh selebriti dan iklan) juga mengundang mahasiswa untuk mengejar hedonisme. Majalah remaja popular dan kebanyakan tema televisi sama saja. Isinya banyak mengupas tema tema berpacaran, ciuman, pelukan, perceraian, pernikahan.hamil di luar nikah dan bermesraan di muka publik sudah nggak apa-apa lagi, cobalah dan lakukanlah !seolah-olah beginilah ajakan misi televisi dan majalah yang tidak banyak mendidik, kecuali hanya banyak menghibur.

Rancangan majalah popular dan tema televisi komersil di negara kita memang sedang menggiring mahasiswa menjadi generasi konsumerisme bukan memotivasi mereka untuk menjadi generasi produktif.Tema iklannya adalah “manjakanlah kulitmu”.Andaikata semua mahasiswa dan mahasiswa melakukan hal yang demikian, memuja kulit.Pastilah sawah dan ladang, serta lahan-lahan subur makin banyak yang tidak terurus.Karena mereka semua takut jadi hitam.Pada hal untuk manusia yang patut dimuliakan adalah kualitas intelektual, kualitas spiritual dan kualitas hubungan dengan manusia (kualitas fikiran dan keimanan).

  1. E.     Hedonisme Dalam Pandangan Islam

 

Setelah kita mengerti  makna dan arti dari faham hedonism yang sangat bertolak belakang dengan ajaran agama kita yaitu islam. Perilaku hedonis ini sangat berpengaruh terhadap setiap lini kehidupan baik dari segi lapisan masyarakat dan gejala sosial dari masyarakat itu sendiri.Dari kalangan masyarakat alkan berimbas pada prilaku para generasi bangsa (anak muda), bahkan sampai para pejabat negara.

 

Ali Syariati, seorang ulama terkemuka timur tengah pernah berkata bahwa tantangan terbesar bagi remaja muslim saat ini adalah budaya hedonisme (kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup) yang seolah sudah mengurat nadi. Budaya yang bertentangan dengan ajaran islam ini digemari dan dijadikan sebagai gaya hidup (life style) kawula muda masa kini, kaya atau miskin, ningrat atau jelata, sarjana atau kaum proletar, di desa ataupun di kota seolah sepakat menjadikan hedonisme yang sejatinya kebiasaan hidup orang barat ini sebagai “tauladan” dalam pergaulannya. Firman Allah SWT, “…dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Huud: 116). Bahkan yang lebih meresahkan lagi budaya hedonisme seolah telah menjadi ideologi bagi kaum muda yang tidak tabu lagi untuk dilakukan.

Bahkan pada kenyataan masa sekarang ini, tingkat kepercayaan masyarakat kita dewasa ini memang sedang berada di titik nadir terhadap lembaga apapun yang berbau pemerintahan.Apa yang dilontarkan oleh Busyro Muqoddas dan Mahfud MD, sebetulnya adalah sesuatu yang biasa, penyedap sarapan pagi di kedai kopi. Bau tak sedap dari kongkalikong oknum di DPR, KPK, MK, sudah menjadi rahasia umum.Terasa ada terkatakan tidak.

Kambing hitamnya adalah konstitusi kita.UUD 1945 pasca perubahan memberi kekuasaan yang sangat besar kepada DPR. Lihatlah pasal 20 ayat (1): “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang.” Ini bermakna bahwa fungsi legislasi merupakan hak eksklusif DPR. DPRlah yang memegang kekuasaan membentuk undang-undang, tidak ada lembaga lain. Tetapi UUD 1945 pasca perubahan itu, juga mengatur bahwa kita sekarang menganut dua badan legislatif (bicameral system) yaitu DPR (anggotanya berasal dari partai politik) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) anggotanya perorangan, non partisan.Kedua-duanya dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu.

Sangat ironi memang melihar fenomena –fenomena yang berada di masyarakat sekitar kita ini, yang mana pemudanya yang di andalkan sebagai agen of change yang di bebani untuk mengemban tugas pemerintahan dimasa mendatang sudah terdoktrin duluan oleh prilaku hidonis.Dan para dewan pemerintahan pun sudah mulai tidah ada yang benar – benar amanah.Gaya hidup hedonis identik dengan gaya hidup glamor, hura-hura, foya-foya, dan bersenang-senang. Gaya hidup hedonis akan mengantarkan seseorang pada sikap mental yang tidak mau peduli dan peka melihat keberagaman hidup, tidak memiliki sensitivitas terhadap kesulitan hidup orang lain. Singkat kata, gaya hidup hedonis melahirkan manusia-manusia yang tumpul sikap sosialnya, melahirkan jenis manusia asosial. Padahal hidup di dunia ini hanyalah main-main dan sendau gurau belaka.Adapun kampung akhirat adalah hal yang lebih utama.Allah  berfirman,
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.Maka tidakkah kamu memahaminya?” (al-An’am: 32)

Rasulullah mengibaratkan kehidupan dunia bagai seorang pengelana yang beristirahat di bawah pohon.Kala lelah telah sirna dari tubuhnya, pengelana itu pun melanjutkan perjalanannya.Pohon tempatnya berteduh dia tinggalkan. Itulah dunia beserta kehidupan di dalamnya, sekadar tempat rehat sesaat. Nabi  bersabda,
“Apalah arti dunia bagiku. Tiadalah (bagi) aku dalam perkara dunia melainkan seperti seorang pengelana yang beristirahat di bawah pohon, lalu setelah itu meninggalkan (pohon) tersebut.”(HR. at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Hakim. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan hadits ini sahih dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu no. 5669)Dalam sebuah hadits dari Abul Abbas Sahl bin Sa’d as-Sa’idi z disebutkan,“Seorang lelaki datang kepada Nabi. Laki-laki itu berkata kepada Nabi,‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang apabila aku mengamalkannya Allah akan mencintaiku dan manusia akan mencintaiku.’ Jawab Rasulullah , ‘Zuhudlah dalam urusan dunia, Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu’.” (HR. Ibnu Majah no. 4102, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

Dalam islam mengajarkan zuhud, Sikap zuhud bisa dilakukan oleh seorang hamba yang fakir ataupun yang memiliki harta kekayaan yang melimpah. Bagi orang fakir, hendaknya dia berzuhud dengan tetap bersemangat mencurahkan segenap kemampuannya bagi kehidupan akhiratnya.Adapun bagi yang diberi limpahan harta kekayaan, dia berzuhud dengan segenap kemampuan dari hartanya guna kepentingan Islam dan kaum muslimin. Harta yang disalurkan untuk hal itu akan membawa kebaikan baginya dan tidak akan membinasakannya.

Menyikapi kehidupan dunia dengan bimbingan syariat, niscaya akan menyelamatkan hamba dari tekanan hedonisme. Seseorang tidak akan diperbudak oleh dunia, tidak pula silau oleh kemilau dunia yang menipu. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan kampung akhirat adalah tempat tujuan yang hakiki, tujuan nan abadi.“Adapun kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (al-A’la: 17)
Saat seseorang meninggalkan dunia fana ini menuju kampung akhirat, segenap harta kekayaan yang telah dikumpulkan selama hidupnya tidak akan dibawanya, kecuali kain kafan yang menyelimutinya.

  1. F.     Cara Mengatasi Budaya Hedonisme :

Untuk mengantisipasi pengaruh negatif budaya hedonisme bagi mahasiswa perlu diadakan sosialisasi, yaitu :

  1. Perlunya kearifan dalam memilih barang agar tidak terjebak dalam konsumerisme.
  2. Menanamkan pola hidup sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Dalam memilih barang mahasiswa perlu membuat skala prioritas dalam berbelanja sehingga dapat membedakan barang apa yang benar-benar diperlukan dan barang-barang yang diinginkan namun tidak diperlukan.
  4. Penerapan pola hidup sederhana dalam kegiatan sehari-hari diperlukan untuk mengatur keuangan mahasiswa agar pendapatan yang biasanya berasal dari orang tua tidaklah lebih kecil daripada pengeluaran.
  5. Adanya kedewasaan dalam berpikir sehingga kita dapat membentengi diri dari pola hidup konsumerisme.

Memilih gaya hidup hedonime, terus terang tidak akan pernah memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Ibarat minum air garam, makin diminum makin haus.Bagi yang belum terlanjur menjadi pengidola hedonisme maka segeralah balik kiri, berubah seratus delapan puluh derajat. Bahwa kebahagian hidup ada pada hati yang bening, saatnya bagi kita kembali untuk menyuburkan akar-akar spiritual- kembali ke jalan Ilahi, tumbuhkan jiwa peduli pada sesama- buang jauh-jauh karakter selfish (mementingkan diri sendiri), dan miliki multi kekuatan – kuat otak, kuat otot, kuat kemampuan berkomunikasi, kuat beribadah, dan kuat mencari rezeki.

 

  1. G.    Gaya Hidup Konsumtif

Kata “konsumtif” (sebagai kata sifat; lihat akhiran –if) sering diartikan sama dengan kata “konsumerisme”. Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen.Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.

Menurut Barnhart dan Williams istilah konsumsi berasal dari bahasa latin yaitu consumere dan consummareConsumeremempunyai arti menggunakan sepenuhnya atau seluruhnya.Adapun consummaremengandung arti menghimpun, menjumlahkan, atau melengkapi.

Berdasarkan pengertian konsumen dan perilaku diatas dapat dijelaskan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut. Engel menambahkan bahwa perilaku konsumen tidak hanya melibatkan apa yang dikonsumsi seseorang tetapi juga menyangkut dimana, seberapa sering, dan dalam kondisi seperti apa barang dan jasa tersebut dikonsumsi.

seseorang yang konsumtif mempunyai karakteristik sebagai berikut :

  1. Membeli produk untuk menjaga status, penampilan, dan gengsi.
  2. Memakai sebuah produk karena adanya unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan produk tersebut.
  3. Adanya penilaian bahwa dengan memakai atau membeli produk dengan harga yang mahal akan menimbulkan rasa percaya diri.
  4. Membeli produk dengan pertimbangan harga bukan karena manfaat dan kegunaannya.
  5. Membeli karena kemasan produk yang menarik.
  6. Membeli produk karena iming-iming hadiah.
  7. Mencoba produk sejenis dengan dua merk yang berbeda.

Dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku membeli barang-barang dan jasa yang sifatnya kurang diperlukan dan hanya mementingkan faktor keinginan dan kesenangan dibandingkan dengan faktor kebutuhan.

  1. H.     Faktor Pendorong Gaya Hidup Konsumtif

Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif dikalangan mahasiswa :

  1. terpengaruh penampilan produk atau kemasanproduk dan iklan,
  2. terhegemoni akan hypermarket maupun supermarket yang ada di lingkungan,
  3. Keinginan mengikuti trend dan mode
  4. bagaiamana tanggapan orang tua terhadap perilaku konsumtif.
  5. I.       Cara mengatasi budaya konsumtif :

Membuat daftar belanja yang diinginkan dan dibutuhkan.Diutamakan barang yang dibutuhkan, untuk menghindari terbuangnya uang untuk barang yang sia-sia.

  1. Tanyakan diskon khusus.
  2. Selalu update jadwal diskon.
  3. Gunakan kupon belanja.
  4. Jangan terlalu fanatik pada satu nama perancang.
  5. Tunggulah diskon perancang. Bersabar sampai barang-barang yang “mahal harus punya” sampai turun harga.
  6. Kunjungi pameran. Selain menawarkan harga untuk model terbaru, juga tersedia berbagai hadiah saat pameran.

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan               

Hedonisme adalah derivasi (turunan) dari liberalisme.Sebuah pandangan hidup bahwa kesenangan adalah segalanya, bahkan kehidupan itu sendiri. Bagi kaum hedonis, hidup adalah meraih kesenangan materi: sesuatu yang bersifat semu, sesaat, dan artifisial.

Faktor yang mempengaruhi hedonisme adalah orang tua dan kaum kerabat, faktor Bacaan, dan pengaruh tontonan.

Untuk mengantisipasi pengaruh negatif budaya hedonisme bagi mahasiswa perlu diadakan sosialisasi, yaitu :

  1. Perlunya kearifan dalam memilih barang agar tidak terjebak dalam konsumerisme.
  2. Menanamkan pola hidup sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Dalam memilih barang kita perlu membuat skala prioritas dalam berbelanja sehingga dapat membedakan barang apa yang benar-benar diperlukan dan barang-barang yang  diinginkan namun tidak diperlukan.
  4. Penerapan pola hidup sederhana dalam kegiatan sehari-hari diperlukan untuk mengatur keuangan kita agar pendapatan yang biasanya berasal dari orang tua tidaklah lebih kecil daripada pengeluaran.
  5. Adanya kedewasaan dalam berpikir sehingga kita dapat membentengi diri dari pola hidup konsumerisme.

Perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku yang ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan, penggunaan segala hal yang dianggap paling mahal dan memberikan kepuasaan dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan dan didorong oleh suatu keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata-mata.

 

Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif terpengaruh penampilan produk atau kemasan produk dan iklan, terhegemoni akan hypermarket maupun supermarket yang ada di lingkungan, keinginan mengikuti trend dan mode, dan bagaiamana tanggapan orang tua terhadap perilaku konsumtif.

Untuk mengantisipasi pengaruh negatif budaya hedonisme bagi mahasiswa perlu diadakan sosialisasi, yaitu :

  1. Membuat daftar belanja yang diinginkan dan dibutuhkan. Diutamakan barang yang dibutuhkan, untuk menghindari terbuangnya uang untuk barang yang sia-sia.
  2. Tanyakan diskon khusus.
  3. Selalu update jadwal diskon.
  4. Gunakan kupon belanja.
  5. Jangan terlalu fanatik pada satu nama perancang.
  6. Tunggulah diskon perancang. Bersabar sampai barang-barang yang “mahal harus punya” sampai turun harga.
  7. Kunjungi pameran. Selain menawarkan harga untuk model terbaru, juga tersedia berbagai hadiah saat pameran.

B.     Saran

Kita sebagai mahasiswa yang kebanyakan tinggal jauh dengan orang tua seharusnya sedikit menimalisir pola hidup hedonisme dan konsumtif dengan tidak terlalu mengikuti gaya hidup yang terus mengalir, belajar mengatur pengeluaran sesuai dengan uang yang diberikan oleh orang tua dan memanfaatkannya untuk kebutuhan yang pokok. Serta tetap menjadi diri sendiri.

 

 

 

 

Daftar Pustaka :

Sensa,Muhammad Djarot.2005.KOMUNIKASI QUR’ANIYAH.Bandung: Pustaka Islamika

Kattsoff,Louis O.2004.PENGANTAR FILSAFAT.Jogjakarta:Tiara Wacana

Haditomo, Siti Rahayu dkk.2006.PSIKOLOGI PERKEMBANGAN.Jogjakarta : Gadjah Mada Universiti Press

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s